Berita Media Bhayangkara Nusantara Diedit Jadi Hoaks, Ini Jawaban Redaksi

FITNAH lebih kejam daripada pembunuhan. Demikian ungkapan yang pas untuk kejahatan di atas segala kejahatan yang ada di dunia.

Persaingan dalam dunia media memang kerap terjadi. Tak jarang hal itu bukan saja terjadi pada medianya, namun juga dialami wartawannya.

Sreenshoot yang diedit

Dengan motif yang tak jelas, entah masalah pribadi atau ada niatan lain yang ingin menjatuhkan media, tak jarang fitnah dilakukan dengan berbagai cara. Meskipun itu dilakukan untuk menjatuhkan si penulis, namun secara luas akan merusak kredibilitas dari media yang menjadi wadahnya.

Seperti yang dialami wartawan BN OKU Selatan, Slamat. Tulisannya yang berjudul “Orangtua Korban Kekerasan di OKU Selatan Pertanyakan Perkembangan Kasus, Ini Jawaban Unit PPA Polres” yang tayang 16 Juli 2020 dalam kategori Sorot tiba-tiba mendapat protes dari seorang perwira di Polres OKU Selatan. Sang perwira mendapati screenshoot, terselip kata-kata “Bunuh” dalam penaskahan.

Namun demikian hasil screenshoot yang dikirim ke Slamat oleh perwira tersebut berbeda jauh dengan tulisan yang telah tayang dan dirilis dalam media bhayangkaranusantara.com. Sejak awal rilis dan diminta untuk hapus kata itupun tidak ditemukan kata “bunuh” tersebut”. “Ya saya sejak dapat link itu dan buka baca isinya memang gak ada kata-kata bunuh itu,” kata Slamat, Jumat (17/7/20).

Dalam screenshoot tersebut pada alinea kedua juga terlihat banyak kejanggalan, mulai dari Laporan Polisi yang tertulis berspasi pada nomor LP sampai terselipkan kalimat “anak di bawah umur yang telah diperbaiki. Bahkan masih dalam alinea tersebut yang dipermasalahkan juga bertuliskan “kekerasan atas yang dibunuh oleh SM”. Sedangkan dalam rilisan aslinya yang sama sekali belum diedit atas permintaan perwira tersebut, tidak ada kalimat seperti dalam screenshoot yang didapat sang perwira.

Dalam alinea ketiga hal yang sama juga terjadi. Pada bagian akhir alinea tertulis, “Laporan ini sendiri baru ke Unit PPA hari ini, Kamis (16/7/2020)”. Sedangkan dalam naskah yang rilis tertulis, “Laporan tersebut sendiri baru turun ke Unit PPA hari ini, Kamis (16/7/20)”.

Edit screenshoot lagi-lagi terjadi di alinea berikutnya. Pada alinea ke 4 disebutkan, “Kami akan SEGERA meminta para saksi untuk dimintai keterangan”. Sedangkan dalam rilis aslinya, “Kami akan segera MEMANGGIL para saksi untuk dimintai keterangan”.

Hal janggal juga terjadi pada alinea kelima. Dalam screenshoot tertulis “…. dan jangan berunding di luar hukum agar nanti timbul masalah baru”. Sedangkan dalam rilis, “… Jangan bertindak di luar hukum agar nanti timbul permasalahan baru”.

Dalam alinea tersebut pada kalimat langsung juga tertulis, “Mempertanyakan masalah hukum untuk menindaklanjuti masalah ini,” katanya. Sementara dalam rilisan yang dipublish, “Percayakan kepada penegak hukum untuk menindaklanjuti masalah ini,” ujarnya.

Editan pun juga terjadi pada alinea keenam dimana tertulis kalimat, “Sementara orangtua berharap untuk menegakan hukum…” dan tertulis nama penulis di akhir berita. Padahal dalam rilisan yang terpublish, “Sementara pihak orangtua berharap kepada penegak hukum….” dengan penulis yang sama.

Yang jadi masalah, ada tulisan kalimat “kekerasan atas yang dibunuh oleh SM” yang diniliai tidak nyambung dengan kasus kekerasan tersebut. Atas fitnah edit naskah tersebut, hingga berita ini diturunkan, wartawan BN masih di ruang Mapolres OKU Selatan untuk meminta klarifikasi dan kejelasan terkait screenshoot yang dikirim dan diprotes sang perwira.

“Harus teliti, cek and recheck, saya harap perwira tersebut memberi kejelasan dari mana dapat screenshoot itu, apa screen sendiri dari link kita atau kiriman dari seseorang. Harus dijelaskan itu agar kita semua tahu dan kalau seandainya perwira ini dapat dikirim orang, saya minta proses. Jadi jangan fitnah edit berita orang untuk dikirim ke mana-mana. Sama saja sebar hoaks, ada pidananya,” kata Pemimpin Redaksi bhayangkaranusantara.com, Edy Usman.

Intinya, perwira tersebut harus jujur. Jangan menutup-nutupi dari mana screen yang didapatnya. “Kalau bilang ngambil dari link kami, rasanya tak mungkin. Karena sebelum publish saya tahu betul setiap kata dan kalimat yang redaksi edit. Ini jelas fitnah dan hoaks dikirim ke wartawan kami,” kata Edy. RED